Senin, 04 November 2013


SETRATEGI KEBANGKITAN ISLAM

SETRATEGI KEBANGKITAN ISLAM
 ( TELAAH ATAS PEMIKIRAN DR. YUSUF AL-QARDHAWI )

“ Dan masa ( kejayaan dan kehancuran ) itu kami pergilirkan dianatara manusia,
( agar mereka mendapat pelajaran ) “

Muqaddimah
Umat Islam pernah jaya membangun peradaban dan menjadi adikuasa sejak masa khalifah Umar bin Khatthab hingga pertengahan milenium kedua, bahkan menurut sebagian pengamat hingga runtuhnya khilafah Ustmaniah,  sementara itu bangsa Eropa masih dalam zaman kegelapan. Dunia mengetahui nama-nama besar para ulama, ahli filsafat, sastrawan, para tokoh dan penguasa muslim. Mereka meninggalkan pengaruh yang sangat membekas dan berarti dalam wacana pemikiran, sastra, agama dan politik. Namun pada paruh akhir milenium kedua , kendali dunia berpindah ke pihak Barat, yang bangkit dari kegelapan menuju cahaya, dari stagnasi menuju dinamika, dari kelalaian menuju kesadaran, dari keterbelengguan menuju kebebasan dan dari konservatisme menuju prograsivitas.
Para pengamat yang jujur menghakui bahwa sebenarnya Barat bisa maju dan berkembang karena berinteraksi dengan kaum muslimin, baik di masa damai ataupun perang. Dari Perang Salib Barat banyak mendapatkan inspirasi dan pelajaran berharga tentang kemajuan peradaban Islam, yang kemudian membangkitkan semangat mereka untuk berbenah diri.[1] Di Andalusia, Sisilia dan beberapa daerah lain yang menjadi jembatan komunikasi antara kaum muslimin dan Barat, mereka banyak belajar di universitas-universitas Islam, dari para cendekiawannya dan buku-buku karangan umat Islam. Mereka juga belajar metode eksperimental induktif dari peradaban kaum muslimin. Mulailah Barat bangkit, sementara kita justru tergelincir, mereka bangun dari tidurnya, sementara kita malah tertidur panjang, mereka memandang ke depan, sementara kita malah menoleh ke belakang.
Umat Islam mundur karena meninggalkan ajaran agama yang kaya dengan sumber inspirasi kemajuan peradaban manusia, sementara itu Barat maju karena mereka meninggalkan ajaran agama mereka yang membelenggu manusia dalam kejumudan dan kemunduran[2], disamping mengambil unsur-unsur kemajuan peradaban dari Islam yang kemudian mereka kembangkan dengan watak yang sekuleristik, memisahkan antara ilmu, ekonomi dan politik dari nilai-nilai religiusitas, keimanan dan moral.

Sejarah Peradaban Adalah Siklus
Setelah mengalami masa kemunduran sekian lama, hidup dibawah dominasi dan hegemoni Barat, terpuruk di berbagai bidang kehidupan, adakah harapan bagi umat Islam untuk bangkit dan memegang kembali kemajuan peradaban dunia ?, masihkah tersisa optimisme dalam diri kita bahwa umat Islam akan memegang kembali kendali peradaban dunia ?. Keimanan kita mengatakan dengan tegas “ Ya “, kita akan bisa bangkit dan jaya kembali, sangat banyak janji-janji Allah dalam al-Qur’an yang akan memeberikan kemenangan dan kekuasaan kepada umat Islam, yang dulu sudah pernah terbukti, dan nanti akan terbukti kembali bila syarat-syaratnya kita penuhi.[3] Kita harus memperjuangkannya, karena langit tidak akan menurunkan hujan emas atau perak kepada kita.
Sejarah telah mengajarkan kepada kita bahwa peradaban adalah siklus[4], dan waktu akan terus bergulir. Perubahan merupakan keniscayaan dan tetapnya keadaan adalah kemustahilan. Obor peradaban pernah dipegang oleh Timur pada masa Mesir Kuno, Venessia, Babilonia dan Persia. Kemudian berpindah ke Barat pada masa Yunani dan Romawi, lalu kembali lagi ke Timur pada masa peradaban Islam Arab. Namun ketika kaum muslimin mengalami stagnasi dan keterbelakangan yang disebabkan oleh kesalahannya dalam memahami agama dan aplikasinya, obor peradaban pun dengan cepat berpindah ke Barat, dan mereka langsung memegang kendali dunia hingga sekarang.
Sunnatullah dan logika sejarah menyatakan bahwa siklus perubahan pada masa datang akan berada di tangan kita, kaum muslimin, sebagai konsekwensi “ benturan peradaban “ seperti yang dibicarakan Samuel Huntington, karena dasar teorinya adalah  “ yang  bertahan adalah yang paling berkualitas, bukan yang paling kuat “. Soviet telah runtuh karena hanya mengandalkan kekutan senjata, tanpa kualitas spiritual, demikian pula Barat yang saat ini dipersonifikasikan oleh Amerika, meskipun mempunyai kekuatan politik, ekonomi dan militer tetaplah rapuh dan akan runtuh bila tidak mempunyai kekuatan spiritualitas,[5] yaitu  keyakinan agama, akhlak, pemikiran, pengetahuan dan semangat manusia.

Pembahasan
Pandangan Dr. Yusuf al-Qardhawi[6] Tentang Kebangkitan Islam
a. Kebangkitan Islam Sebuah Kenyataan
Syekh Yusuf al-Qardhawi, dikenal sebagai ulama produktif dan moderat banyak menulis buku dan artikel tentang kebangkitan Islam,[7] sebuah harapan besar yang senantiasa menjadi koncern beliau seperti yang beliau tulis dalam pengantar buku kumpulan essainya yang diberi judul “ Min ajli shahwah rasyidah, tujaddidu ad-din wa tunahhidhu biddunya “.
“ Kita harus selalu berusaha memberikan kontribusi-kontribusi nyata untuk merealisasikan kebangitan Islam yang sebenarnya dan mengakar kuat, yang mempunyai karakter kedewasaan dan kematangan serta kecemerlangan. Kebangkitan akal yang cerdas, hati yang jernih, semangat yang menggelora, kebangkitan yang mengetahui tujuannya, mengetahui jalannya, mengetahui untuk siapa ia, siapa temannya dan siapa yang menjadi musuhnya. Kebangkitan yang memperbaharui agama, membangkitkan kejayaan dunia, kebangkitan yang meluruskan pemahaman-pemahaman yang salah, melempangkan jalan-jalan yang bengkok, membangkitkan akal yang tertidur, menggerakkan kehidupan yang statis, meniupkan ruh ke dalam badan yang diam, sehingga kehidupan kembali kepadanya, bergerak dan tumbuh berkembang. “[8]
            Selanjutnya Dr. al-Qardhawi juga menegaskan gambaran kebangkitan yang sebenarnya, yang harus menjadi prioritas perjuangan umat Islam.
“ Ciri khas kebangkitan Islam kontemporer adalah tidak sekedar bermodalkan semangat, ungkapan verbal dan slogan, melainkan kebangkitan yang benar-benar didasarkan pada komitmen terhadap Islam dan adab-adabnya, bahkan sunnah-sunnahnya. Ditengah-tengah masayarakat muslim saat ini muncul para pemuda yang ditengarai oleh Allah SWT “ Mereka adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, yang memuji ( Allah ), yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah.. ( at-Taubah : 112 ) “.[9]
            Kebangkitan Islam merupakan salah satu prestasi yang diraih umat Islam pada abad ke-XX, setelah mereka berhasil membebaskan diri dari belenggu penjajahan, mengembangkan lembaga-lembaga pendidikan Islam, memunculkan berbagai gerakan pembaruana dan kebangkitan Islam serta mengadakan perlawanan gigih terhadap westernisasi, sekulerisasi dan ghozwul fikri lainnya.
Istilah kebangkitan Islam muai ngetren di tahun 70-an, ketika umat Islam bersiap-siap memasuki abad ke-XV Hijriah yang diharapkan menjadi abad kebangkitan Islam. Kebangkitan berarti kembalinya kesadaran setelah sebelumnya menghilang. Sadar terhadap dirinya, sadar terhadap orang lain ( kawan dan lawan ), sadar terhadap misinya serta sadar terhadap zaman dan buminya. Kebangkitan Islam ini telah mewabah dan merambah keseluruh negri Islam, terutama di kalangan pemudanya yang menjadi aset sangat berharga bagi dunia Islam, merayap seperti aliran listrik yang menggerakkan dan memancarkan cahaya terang benderang, mengalir seperti darah di dalam tubuh yang mendatangkan enerzi dan kekuatan, berhembus dengan cepat seperti angin ke seluruh pelosok bumi Allah. Kebangkitan Islam telah nyata-nyata terjadi, hanya orang-orang takabbur yang mengingkarinya, kebangkitan yang menyeluruh ; kebangkitan akal fikiran, kebangkitan hati dan perasaan, kebangkitan tekad dan kemauan, kebangkitan perilaku dan komitmen, kebangkitan gairah dan dakwah, kebangkitan perjuangan dan jihad serta kebangkitan muslimin dan muslimat.
Dengan sangat jelas dapat kita saksikan di berbagai negri Islam fenomena-fenomena kebangkitan Islam seperti :
a.      Menjamurnya kelompok halaqah dan harakah di universitar-universitas
b.     Maraknya pembangunan dan pemakmuran masjid-masjid
c.      Meluasnya pemakaian jilbab bahkan cadar pada akhawat
d.     Buku-buku dan literatur keIslaman  dipublikasikan secara luas
e.      Bangkitnya ghirah diniyah diberbagai belahan bumi[10] dan masih banyak lagi lainnya.
Kalau kita cermati memang benar adanya bahwa kebangkitan Islam telah menjadi kenyataan dan arusnya semakin menguat di berbagai negri Islam, bahkan di negri-negri Barat sendiri, dimana umat Islam sebagai minoritas, mereka yang dulu apriori, banyak yang tertarik untuk mempelajari Islam, sebagian diantara mereka kemudian masuk Islam. Dari berbagai pemberitaan resmi terbukti Islam adalah agama yang paling cepat berkembang di Amerika Serikat, Inggris hingga Australia, baik melalui para imigram muslim maupun penduduk asli negara tersebut yang memeluk Islam.
Namun kita juga masih mendapatkan kenyataan bahwa kebangkitan Islam yang bergerak hingga tiga dasawarsa ini, belum juga memasuki fase kematangannya, belum menjadi sebuah kebangkitan yang massiv dan integral, di setiap negri muslim ada trend yang berbeda dengan lainnya. Di Indonesia sebagai contoh, kita melihat kecenderungan kebangkitan Islam juga kuat, fenomenanya sangat tampak dengan makmurnya masjid-majid oleh para pemuda, semaraknya kajian Islam, banyaknya harakah Islamiyah, bangkitnya politik Islam, banyaknya orang berhaji, adanya organisasi formal Islam semacam ICMI, munculnya bank-bank Islam ( Mu’amalat ) dan syariah, ramainya publikasi Islam, dan masih banyak lagi. Namun di sisi lain kita juga mencatat maraknya korupsi, tindak kriminal, perusakan sumber daya alam, maraknya pornografi dan porno aksi, seolah tidak ada korelasi antara kesemarakan ibadah dengan keshalihan sosial.

b. Ruh Kebangkitan Islam
            Mungkin bisa diinventarisir faktor-faktor penyebab kebangkitan Islam, namun yang menjadi faktor utama, ruh dan spiritnya adalah ajaran Islam itu sendiri. Tabiat Islam tidak pernah membiarkan umatnya tidur nyenyak dan tetap dalam kematian. Islam selalu menyeru kepada ilmu dan amal, menganjurkan untuk berfikir dan meluaskan wawasan, mendorong untuk berjuang dan berjihad dengan janji kemenangan dan tegaknya kalimah Allah. Islam meyakinkan kepada umatnya bahwa Allah bersama orang-orang yang beriman, kesudahan yang baik hanya bagi orang-orang yang bertakwa, kemenangan itu senantiasa berpihak kepada kebenaran, dan kebatilan itu – tidak bisa tidak – pasti akan sirna.
            Dalam surat ar-Ra’d : 17 Allah menggambarkan pertentangan antara kebenaran dengan kebatilan, kebenaran digambarkan seperti air dan kebatilan seperti buih, air ( kebenaran ) yang bermanfaat bagi kehidupan meskipun untuk sementara waktu kadang tertutupi oleh buih ( kebatilan ) yang mengembang, pada akhirnya akan lebih abadi bertahan, sedang kebatilan meskipun tampak mendominasi, menghegemoni di permukaan, sebentar kemudian akan segera sirna. Hal yang sama juga terjadi pada perhiasan ( emas ) saat dibakar api untuk dibentuk, buihnya sering mengembang menutup permukaan emas, namun sebentar kemudian setelah mereka apinya buih pun sirna dan emas yang akan tersisa.
            Telah ditegaskan dalan nash-nash al-Qur’an maupun al-Hadist, bahwa umat Islam tidak mungkin bersatu dalam kesesatan, akan selalu ada golongan-golongan yang teguh memperjuangkan kebenaran, hingga Allah memberikan kemenangan-Nya. ( Hadist muttafaq alaih dari Mu’awiyah ) juga ( al-A’raf : 181 ). Allah akan membangkitkan di tengah-tengah umat Islam para mujaddid yang memperbaharui agama mereka ( Hadist riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah ), dan bahwa ilmu ( kenabian ) ini akan selalu diwarisi oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi, yang kemudian akan meluruskan penyelewengan dan kebatilan ( Hadist riwayat Daruquthni dari Ibnu Adi )
            Sejarah juga membuktikan bahwa meskipun umat Islam melalui berbagai masa sulit dan kritis, mereka pada akhirnya dengan pertolongan Allah mampu mengatasi berbagai tantangan baik internal maupun eksternal, mengubah kekalahan menjadi kemenangan, kelemahan menjadi kekuatan, perpecahan menjadi pesatuan serta tulang belulang yang berserakan menjadi tubuh raksana. Pada zaman khalifah Abu Bakar terjadi krisis perang riddah, beberapa abad kemudian terjadi Perang Salib, serbuah Tartar, dilanjutkan dengan kolonialisasi, tetapi umat Islam selalu bangkit dari keterpurukan. Semua itu karena ajaran Islam yang menentang tiranisme, kediktatoran, menolak kehinaan, melawan penindasan dan anti kolonialisme dalam berbagai bentuknya. Islamlah yang selalu menjadi panglima dalam setiap kebangkitan dan perjuangan.[11]
            Masalahnya adalah, ketika Islam tidak difahami dengan benar oleh umatnya. Semangat untuk berfikir diganti dengan taklid buta, ruh dinamis Islam diganti dengan kejumudan, tauhid dicemari dengan syirik, ibadah digantikan dengan bid’ah, universalitas Islam hanya ditangkap secara parsial, kemurnian Islam dimasuki unsur-unsur ajaran luar yang menyesatkan, hingga akhirnya ajaran Islam yang luhur ini tertutup oleh kebodohan dan penyimpangan umatnya sendiri ( al-Islamu mahjubun bil muslimin ) seperti yang pernah disampaikan oleh Jamaluddin al-Afghani. Maka upaya untuk purifikasi ajaran Islam harus menjadi gerakan yang berkesinambungan tak kenal henti, dan pemahaman Islam yang benar menjadi titik sentral dakwah Islamiah.



c. Tajdid sebagai salah satu bentuk kebangkitan Islam
Tidak disangkal bahwa munculnya gerakan tajdid ( pembaharuan Islam ) adalah salah satu indikator dan bentuk dari kebangkitan Islam. Dalam hal ini ada sebuah hadist yang sangat populer yang diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab sunannya dari Abu Hurairah bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda “ Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat ini ( Islam ) di setiap penghujung seratus tahun seseorang yang memperbaharui bagi umat ini agama mereka “. Setelah diteliti hadist ini dikategorikan shahih, orang-orang dalam rangkaian sanadnya tsiqat ( dapat dipercaya ) orang-orang yang sering dijadikan sanad imam Muslim sehingga imam Suyuthi memasukkannya dalam kitab aj-Jami’ ash-Shaghir ( kamus himpunan hadist-hadist shahih ).
Tujuan hadist ini adalah untuk membangkitkan harapan dan optimisme di tengah-tengah umat Islam, bahwa Islam tidak akan mati dan padam, karena Allah akan memelihara eksistensisnya dan pada setiap masa tertentu ( abad ) Allah akan membangkitkan para mujaddid untuk agama ini. Hal ini perlu disebar luaskan, jangan sampai umat ini dikuasai oleh keputusasaan, seolah-olah kita akan tetap menjadi pecundang, Islam akan terus mundur dan orang kafir yang senantiasa jaya.
Yang melakukan tajdid bisa perorangan, bisa pula kelompok, institusi, organisasi dll, karena kalimah “ man “ bisa bearti seseorang juga bisa berarti orang banyak. Tajdid juga mencakup berbagai bidang kehidupan ; ilmu dan pemikiran, akhlak dan pendidikan, perbaikan kehidupan sosial, hukum dan politik, jihad dan perlawan terhadap musuh, masing-masing dalam rangka memperjuangkan Islam, mempunayi satu tujuan meskipun berbeda prinsip-prinsip dan cara perjuangannya. Perbedaan, meskipun tidak menjadi harapan kita, masih bisa dimaklumi selama masih dalam kategori perbedaan vareatif bukan perbedaan kontradiktif. Karena itu hendaknya ada koordinasi, saling memahami dan bekerja sama serta saling menguatkan dalam menangani agenda-agenda besar umat secara bersama dalam satu barisan yang kokoh. Namun bila masing-masing kelompok hanya berfikir untuk mempertahankan eksistensi dirinya sendiri serta memusnahkan lainnya, berarti telah ikut melemahkan kekuatan umat Islam dan membuatkan lobang-lobang kelemahan untuk diserang oleh musuh-musuh Islam. Islam menganjurkan kita untuk berjuang berjamaah, saling membantu dalam kebaikan, karena “ Tangan Allah bersama jama’ah “, nabi Musa saja memohon kepada Allah agar dikuatkan dengan Harun A.S. dalam perjuanagannya ( al-Qashash : 35 ), nabi Muhammad SAW mendapat kemenangan dengan pertolongan Allah diantaranya melalui bantuan orang-orang yang beriman ( al-Anfal : 62-63 )
Dalam tajdid yang diperhaharui bukan Islam sebagai agama yang dibawa nabi Muhammad SAW,  yang terdiri dari aqidah, ibadah, akhlak dan syariat-syariat, untuk mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan mereka dan hubungan antar sesama manusia yang di dalamnya terkandung semua ajaran untuk kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Karena agama dalam pengertian ini tetap tidak berubah dan tidak bisa dimasuki walayah tajdid. Tetapi yang diperbaharui adalah “ Dinaha “ agamanya umat Islam, kondisi umat Islam dalam beragama, baik secara perasaan, pemikiran, perbuatan maupun akhlak. Inilah yang selalu berubah-ubah dan berbeda antara satu orang dengan lainnya, kadang menguat namun kadang juga melemah, kadang bersih namun juga kadang keruh, lurus dan bengkok sesuai dengan pemahaman manusia atas agama ini, keimanannya serta konsistensinya dalam berpegang teguh dengannya.
Makna tajdid adalah : Upaya untuk kembali kepada keadaan semula, kembali baru dalam bentuk lamanya, hal itu dengan menguatkan yang lemah, perbaikan yang rusak, menutup yang bocor hingga kembali sedekat mungkin dengan gambaran aslinya. Jadi tajdid bukan berarti merubah tabiat aslinya dan menggantikannya dengan yang lain, yang baru sama sekali. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tajdiduddin adalah mengembalikan agama Islam ini seperti keadaan pada zaman nabi Muhammad SAW, para shahabat dan tabi’in. Kunci dari tajdid adalah pemahaman, pemahaman tentang alam semesta yang diciptakan Allah dan pemahaman tentang agama yang disyariatkan-Nya. Dengan pemahaman ini maka tajdid dalam agama harus berasal dan bersumber dari Islam itu sendiri, tidak mendatangkan sesuatu dari luar Islam untuk dicangkokkan kepada Islam.[12]
Bila pengertian tentang tajdid ini disepakati, betapa hebatnya hasil yang akan dicapai umat Islam, sayangnya banyak tokoh yang memposisikan diri mereka menjadi mujaddid ternyata membawa kaidah sendiri-sendiri ; ada yang memasukan sekulerisme ke dalam Islam sebagai upaya tajdid, ada yang mengklaim bahwa modernisasi adalah tajdid yang sangat diperlukan, meskipun mereka juga berselisih apa essensi dari modernisasi tersebut, sebagian beranggapan bahwa westernisasi adalah tajdid jalan pintas menuju kemajuan, hingga ada yang berani mengklaim tajdid kenabian, seperti Mirza ghulam Ahmad dengan kelompok Qadianiyahnya. Busthami Muhammad Said, M.A. dalam bukunya “ Mafhumu Tajdididdin “ mengupas tuntas permasalahan ini dengan mengklasifikasi gerakan-gerakan tajdid yang benar dan yang palsu.[13]

d. Para Pioner Penggerak Kebangkitan Islam
            Munculnya kebangkitan Islam tidak seperti “ mesjid tiban “ yang tiba-tiba ada tanpa diketahui kapan dan siapa yang membangunnya. Kebangkitan Islam ini sebenarnya merupakan kelanjutan dan pembaharuan terhadap gerakan revitalisasi dan pembaharuan Islam yang telah dirintis oleh para ulama dan tokoh Islam, seperti Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab di Jazirah Arab ( w : 1859 ), gerakan Dakwah Sanusiah di Libia dengan tokohnya Muhammad bin Ali as-Sanusi ( w : 1889 ), gerakan revolusioner untuk menegakkan syariat Islam di Mesir oleh Muhammad Ahmad al-Mahdi ( w : 1885 ), diikuti oleh musuh sejati penjajah, seorang dai Pan Islamisme, Jamaluddin al-Afghani ( w : 1897 ) dan muridnya Syekh Muhammad Abduh ( w : 1905 ).
            Bila nama-nama yang tersebut diatas dikategorikan sebagai pioner, maka berikut ini adalah para tokoh yang menggerakkan dan menyuburkan benih-benih kebangkitan Islam yang mulai tersemai, diantara mereka itu adalah : Sayyid Rasyid Ridha ( w : 1935 ) yang menggabungkan antara ma’qul dan manqul, orisinilitas dan kekinian, seorang salafi yang mujaddid, di Turki ada Syekh Badi’uzzaman Said Nursi ( w : 1960 ) yang gigih menentang sekulerisasi Kamal Attaturk, Imam Syahid Hasan al-Banna ( w : 1949 ) penyeru syumuliyatul Islam, konsep tawazun, rabbaniyah dan waqi’iyah melalui gerakan al-ikhwan al-muslimun telah mendidik generasi yang menjadikan Allah sebagai tujuannya, al-Qur’an sebagai dusturnya, rasulullah sebagai tauladannya,jihad jalan hidupnya dan mati syahid cita-cita tertingginya, di India muncul pemikir dan pembaharu Islam Abul A’la al-Maududi ( w : 1979 ), di Aljazair, Syekh Abdul Hamid bin Badis ( w : 1940 ) mendirikan Jam’iyatul Ulama’ untuk menentang kejumudan berfikir dan penyelewengan aqidah.
            Perjuangan mereka terus berlanjut, karena para pejuang Islam selalu dilahirkan sepanjang zaman, para pelanjut itu seperti : Dr. mushtofa as-Siba’I ( w : 1965 ), Sayyid Qutub ( w : 1966 ), Syekh Muhammad al-Ghazali ( w : 1996 ), Syekh Said Hawa ( w : 1989 ) dll. Mereka semua mempunyai pengaruh dan jasa terhadap kebangkitan Islam. Walaupun setiap orang dari mereka pendapatnya bisa diterima atupun ditolak, sebagai manusia yang tidak maksum, mereka berijtihad demi Islam, bisa benar dan bisa saja salah. Bagaimanapun, ijtihad mereka tetap berpahala, sekalipun terjadi kekeliruan. Insya Allah.
            Kita juga mengenal nama-nama pejuang Islam yang mempunyai keteguhan pendirian dalam menegakkan kalimah Allah, mereka juga menjadi inspirasi kebangkitan Islam khususnya bagi para pemuda yang mempunyai ghirah, banyak diantara mereka yang gugur di tiang gantungan atau penjara karena kebengisan para tiran, dan sebagian masih terus berjuang hingga saat ini. Dianatara tokoh mujahidin ini adalah : al-Amir Abdul Qodir ( w : 1918 ), di Aljazair, al-Mahdi ( w : 1885 ) di Sudan, Abdul Karim Khatthabi ( w : 1963 ) di Maroko, Umar Mukhtar ( w : 1931 ) di Libia, izzuddin al-Qassam ( w : 1935 ) di Palestina.
            Sebagian tokoh Islam ada yang bergerak dalam lapangan pemikiran, kebudayaan dan moral, seperti : Muhammad Iqbal ( w :  1974 ), Amir Syakib Arsalan ( w : 1938 ), Muhammad Farid Wajdi ( w : 1954 ), Abbas Mahmud al-Aqqad ( w : 1964 ), Malik bin Nabi ( w : 1964 ), Ismail Raji’ al-Faruqi ( w : 1986 ) Abu Hasan an-Nadawi ( w : 1999 ) dan masih banyak lagi.
            Yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap gerakan kebangkitan Islam adalah berbagai jama’ah dan gerakan Islam. Dengan berbagai pola dan arahnya. Bisa dikatakan bahwa induk dari berbagai gerakan Islam kontemporar yang masih terus eksis dan berkembang saat ini adalah gerakan al-ikhwan al-muslimun. Geraakan Islam lainnya yang cukup berpengaruh hingga saat ini adalah : Jama’ah ad-Dakwah wa at-Tabligh yang berawal di India dan Pakistan, dipelopori oleh Syekh Muhammad Ilyas dan Syekh Muhammad Yusuf, Harakah Salafiah, tumbuh di Saudi, Mesir dan Kuwait, tokohnya Syekh Abdul Aziz bin Baz, Syekh Nashiruddin al-Albani dll, Jama’ah al-jihad, tumbuh di Mesir dengan tokohnya Syekh Umar Abdur Rahman, Hizbu at-Tahrir al-Islami, oleh Syekh Taqiyyuddin an-Nabhani, yang mencurahkan tenaga untuk berdakwah demi tegaknya daulah Islam dan kembalinya khilafah Islamiyah.
            Yang disebut disini adalah para tokoh ulama dan gerakannya di abad ke-XIX dan XX, atau yang disebut sebagai tokoh-tokoh Islam kontemporer yang mempunyai reputasi dan gaung internasional, masih banyak di setiap negri Islam para ulama yang menyuarakan kebangkitan Islam dalam berbagai level yang mereka capai. Di Indonesia kita mempunyai tokoh-tokoh masyumi seperti dr. M. Natsir yang mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah yang sangat konsern memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam, penentang sekulerisme dan penghadang kristenisasi. Ada juga organisasi-organisasi pembaharuan Islam seperti Muhammadiyah, al-Irsyad, Persis yang terus berjuang untuk memurnikan ajaran Islam dan kemudian mengembangkan amal ushanya dalam pemberdayaan umat, Hingga beberapa tokoh ulama tradisionalis juga mempunyai andil terhadap kebangkitan Islam, dengan mendirikan banyak pesantren yang menjadi benteng pertahanan Islam dari kolonialisme.
            Berkaitan dengan banyaknya gerakan Islam yang menyemarakkan dakwah Islamiyah menuju shahwah Islamiyah ada beberapa catatan yang perlu dicermati diantaranya eksklusifitas masing-masing kelompok sangat kental, potensinya berserakan sulit untuk dipadukan, bahkan kecenderungannya adalah saling melemahkan antar satu dengan yang lain, masing-masing merasa yang paling benar dan paling setrategis serta memandang yang lainnya melakukan pemborosan enerzi. Tentu saja hal ini semakin membukakan lobang-lobang kelemahan umat untuk diserang oleh musuh-musuh Islam, melemahkan kekuatan dan menjauhkan rahmah Allah turun kepada umat, karena itu harus ada upaya pendekatan, dialog yang konstruktif, tafahum menuju ta’awun, seperti yang diperintahkan al-Qur’an “ Ba’dhuhum auliau ba’dhin “.
            Perjuangan dalam al-Qur’an senantiasa diikuti batasan fi sabilillah, di jalan Allah, untuk meninggikan kalimah Allah, bukan fi sabili aliran, kelompok, organisasi dan partainya sendiri-sendiri, maka semangat kebersamaan, keterpautan hati dan persaudaraan dengan mengesampingkan perbedaan-perbedaan yang ada. Syak wasangka, kedengkian, suudzan dan hal-hal yang negatif lainnya, haarus dihindari karena akan melemahkan gerakan Islam itu sendiri. “ Dan janganlah kamian berselisih, sehingga akan gagal dan hilang kekuatan kalian “. Sejarah juga mencatat bahwa kehancuran umat Islam bukan karena kehebatan musuh-musuhnya, namun lebih banyak karena perselisihan, pertentangan dan peperangana diantara mereka sendiri.

e. Diantara Buah Kebangkitan Islam
            Kalau di muka telah sedikit disinggung beberapa fenomena kebangkitan Islam, berikut ini akan disebutkan beberapa pengaruh dan buah kebangkitan Islam yang sudah nyata dalam jangkauan tangan untuk dipetik, tampak oleh mata, disaksikan banyak orang, dan bisa dirasakan secara nyata di semua tempat yang ada pemeluk Islam di sana.
  1. Seruan implementasi syariat Islam. Setelah terbukti sekulerisme semakin menyengsarakan umat Islam, seruan untuk menerapkan syariat Islam mulai bergaung dengan nyaring di berbagai negri muslim, bahkan di negri muslim yang pertama kali menerapkan sekulerisme secara paksa, yakni Turki.
  2. Lahirnya dua negara Islam.  Melalui Revolusi Islam 1979 oleh Ayatullah Khumaini di Iran dan sepuluh tahun kemudian di Sudan, masing-masing telah berhasil mendirikan negara Islam dengan menjadikan Islam sebagai sistem dan misinya di seluruh aspek kehidupan.
  3. Menghidupkan jihad fi sabilillah. Yang sangat spektakuler adalah geraakan jihad membebaskan Afghanistan, gerakan intifadhah di Palestina, Harakah al-Muqawwamah al-islamiyah ( HAMAS ), Harakah Jihad Islami, jihad di Chechnya dll.
  4. Kembalinya pemuda kepada agama. Para pemuda kini menjadi tulang punggung pergerakan, memakmurkan masjid, taat beribadah, rajin mengadakan kajian Islam, hingga menjawab panggilan jihad.
  5. Kembalinya perempuan muslimah kepada hijab. Kita melihat hal ini marak dilakukan juga oleh para muslimah muda, di sekolah-sekolah, universitas, bahkan tempat-tempat kerja.
  6. Kemunculan ekonomi Islam, dalam teori dan praktek. Sistem ekonomi syariah yang dipresentasikan dengan bank-bank Islam, atau Syariah sudah mulai menjamur di berbagai negri Islam.[14]
Apa yang disinyalir Dr. Yusuf Qardhawi sebagai fenomena kebangkitan Islam ini memang kita saksikan, termasuk di Indonesia dan beberpa negara Asean. Namun kalau kita prosentase dengan jumlah penduduk atau jumlah kaum muslimin secara menyeluruh, maka mereka yang terpanggil dalam seruan kebangkitan Islam ini masih minoritas, meskipun trendnya semakin menguat. Banyak pemuda yang telah kembali ke pangkuan Islam, namun masih lebih banyak yang kehilangan arah dan larut dalam arus hedonisme dan permisivisme, hijab semakin marak, namun yang berani buka-bukaan dalam berbagai aksi porigrafi terutama lewat media cetak dan elektronika juga semakin berani, ekonomi Islam bukan lagi diteorikan tetapi diwujudkan dalam bentuk-bentuk bank syariah, namun masih kesulitan mendapatkan kepercayaan dari umat untuk menjadi nasabah, hingga para tokoh dan ulamanya karena sudah terbiasa menikmati bank  dengan sistem konvensional ribawi, semangat jihad mulai tumbuh, tapi ada yang menyalahartikan dengan mata gelap sehingga terperosok dalam ekstrimitas, sementara bagi mayoritas pemuda, jihad masih dianggap tabu. Jadi, meskipun memang fenomena diatas adalah kenyataan dan cenderung menguat trendnya, sebenarnya masih sangat banyak PR umat yang mesti dikerjakan, untuk menuju kebangkitan Islam yang sebenarnya.

Setrategi Gearan Isalam Menuju Kebangkitan Islam Yang Ideal
         
            Gerakan Islam, sebagai salah satu komponen penting dalam dakwah Islamiyah, mempunyai peranan yang setrategis untuk mematangkan kebangkitan Islam kearah yang ideal. Hal itu karena dalam setiap gerakan Islam terdapat unsur-unsur gerakan lainnya, seperti gerakan pemikiran, dakwah, tarbiah, ekonomi, mobilisasi kekuatan hingga gerakan jihad. Dengan demikian pengartuh dan dampak yang didtimbulkan oleh gerakan-gerakan Islam ini jauh lebih besar dari pada pengaruh gerakan lainnya yang sifatnya personal atau institusional lokal.

a. Tiga Tugas besar
Tugas utama gerakan Islam adalah pembaharuan Islam dan perjuangan mengambil alih kembali kepemimpinan Islam setelah menyingkirkan kendala-kendalanya. Tajdid tersebut mengambil tiga bentuk :
                 i.     Pembentukan generasi Islam yang unggul, yang saling mendukung, menguatkan dan bekerjasama, mampu memimpin masyarakat modern dengan Islam, dan mampu mengobati penyakit-penyakit yang ada pada umat Islam dengan obat yang berasal dari apotik Islam sendiri. Generasi yang masing-masing individunya mempunyai iman yang dalam, pemahaman yang matang serta persaudaraan yang kokoh.
               ii.     Pembentukan opini umum yang islami, yang bisa menggerakkan umat Islam untuk mendukung setiap pejuang Islam, mencintai mereka, membela mereka dan menguatkan mereka, setelah memahami prinsip-prinsip tujuan yang mereka perjuangkan, yang percaya dengan keikhlasan serta kemampuan mereka.
             iii.     Menciptakan iklim dan kondisi internaional yang bisa menerima eksistensi umat Islam, memahami hakekat ajaran Islam, peradaban Islam, dan membebaskan mereka dari belenggu-belenggu negatif akibat fanatisme kebencian kepada Islam di abad pertengahan, supaya mereka mempunyai kelapangan hati untuk menerima kehadiran kekuatan Islam disamping keberadaan kekuatan-kekuatan internasional lainnya, memahami bahwa diantara hak-hak umat Islam adalah menerapkan ajaran-ajaran Islam atas diri mereka sendiri sesuai dengan akidah yang mereka yakini, apalagi bila mereka menjadi mayoritas di negri sendiri, seperti yang diserukan oleh prinsip-prinsip demokrasi saat ini, memahami bahwa salah satu hak umat Islam adalah menjalankan misi kemanusiaan mereka di dunia internasional, karena kenyataannya Islam telah menjadi salah satu kekuatan ideologi besar dunia yang mempunyai akar sejarah masa lalu, sekarang dan yang akan datang dan saat ini dipeluk oleh satu setengah milyard umat manusia di dunia.[15]
Dari uraian diatas dapat difahami bahwa Dr. Yusuf Qardhawi tidak termasuk typologi tokoh yang terpancing dengan provokasi Samuel Huntington yang mensekenariokan benturan peradaban, bahwa peradaban Islam dan Barat khususnya karena mempunyai watak dasar yang berbeda bahkan kontradiktif harus berakhir dengan brantayuda, saling memusnahkan. Dr. Yusuf Qardhawi, tampaknya memahami realitas, bahwa apapun wujudnya dan pertentangannya dengan nilai-nilai Islam, peradaban Barat adalah realita – kenyataan, kenapa tidak diupayakan adanya interaksi peradaban atau minimal dialog peradaban, dengan saling mengakui dan menjaga eksistensinya masing-masing, pada akhirnya akan terbukti yang sesuai dengan fithrahyang akan diikuti. Kewajiban kita setelah berislam dengan benar adalah mendakwahkan Islam dengan baik, tanpa paksaan.
Tesis Huntington juga perlu dikritisi, kalau memang diprediksi akan terjadi benturan, kenapa malah diprovokasi agar Barat bersiap –siap menghadapi serangan Islam, mengapa tidak dicarikan alternatif agar tidak terjadi benturan frontal yang saling membinasakan ?. Hadist nabi memberi petunjuk kepada kita agar kita tidak berangan-angan bertemu musuh lalu bertempur, namun kalau memang ketemu musuh dan musuh menyerang kita, pantang langkah surut kebelakang.
Kalimat yang lebih tepat mungkin bukan “ benturan peradaban “, khususnya antara Islam dan Barat, tetapi “ Peradaban yang dibenturkan “ Kalau diassumsikan bahwa watak dasar peradaban Barat sangat kontradiktif dengan watak dasar peradaban Islam, sehingga benturan antara keduanya adalah suatu keniscaayaan, maka mengapa hanya dengan Barat, mengapa tidak dengan lainnya. Bukankah kita hanya mengenal dua kategori : Islam dan jahiliah, selain pereadaban Islam adalah peradaban jahiliah, yang karakter dasarnya juga bertolak belakang dengan nilai-nilai Islam seperti peradaban China, Katolik Ortodoks, Amerika Latin, Jepang ( Sinto ) dan lain-lainnya. Maka jelas disini bahwa benturan peradaban terjadi, karena Barat yang berkehendak untuk membenturkan peradaban mereka dengan Islam yang dinilai sebagai ancaman, bukan karena watak dasar yang kontradiktif dan harus saling memusnahkan.
Memang di kalangan sementara umat Islam juga ada yang mempunyai pemahaman bahwa selain peradaban Islam, tidak bisa diakui eksistensinya dan harus dilibas, dengan landasan “ hatta la takuna fitnah “ sampai tidak ada lagi fitnah. Kelompok-kelompok seperti ini mempunyai pandangan seolah-oleh Islam itu doktrinnya hanya perang dan menghabiskan siapa saja yang berseberangan, tidak bisa membedakan antara dakwah dan jihad, yang masing-masing mempunyai uslub berbeda, apa yang dimaksud dengan “ fitnah “ juga perlu dipastikan terlebih dahulu.

b. Prioritas gerakan Islam
Sangat banyak dan beragam lapangan perjuangan yang menjadi prioritas gerakan Islam dalam rangka kebangkitan Islam ini, diantaranya :
  1. Lapangan pendidikan : Untuk menyiapkan dan mendidik generasi unggul yang memegang kendali keemenangan ayng kita perjuangkan, yaitu generasi yang memahamni Islam serta beriman sepenuhnya dengan agamanya secara ilmu, amal, dakwah serta jihad, yang membawa dakwah Islam untuk umatnya terlebih dahulu baru kemnudian kepada alam semesta setelah mereka berpegang teguh dengan pemikiran yang jernih, akidah yang kuat akhlak yang luhur ibadah yang khusyu’ kepada Allah, mu’amalah yang baik dengan ssesama, prinsip-prinsip peradaban yang membangkitkan umat Islam, yang menyatukan umat Islam dibawah kalimah Allah serta membimbing mereka kejalan yang lebih lurus.
  2. Lapangan politik : Untuk mengambil kekuasaan dari tangan orang-orang pengecut dan pengkhianat ketangan orang-orang kuat dan terpercaya, yang tidak ingin melakukan kecongkakan di muka bumi, yang apabila diteguhkan kedudukannya di muka bumi mereka akan menegakkan shalat, menunaikan zakat serta beramar makruf dan bernahi mungkar.
  3. Lapangan sosial : Kontribusi untuk mengentas kemiskinan, kebodohan, penyakit-penyakit sosial dan dekadensi akhlak.
  4. Lapngan ekonomi : Pemberdayaan ekonomi umat, pembebasan umat dari belenggu ekonomi ribawi serta pembangunan sistem ekonomi Islam.
  5. Lapangan jihad : Untuk membebasakan negri-negri muslim, perlawanan terhadap kekuatan-kekutan yang menentang dakwah dan umat Islam, memelihara kebebasan berislam.
  6. Lapangan dakwah dan informasi : Untuk menyebarluaskan pemikiran Islam, menjelaskan ajaran-ajaran Islam secara gamblang yang menekankan moderasinya dan universalitasnya, menyingkirkan hal-hal yang rancu dan kesalahfahaman yang dituduhkan kepada Islam dengan berbagai sarana yang bisa dibaca, didengar dan dilihat dengan jelas oleh semua lapisan masyarakat.
  7. Lapangan pemikiran dan keilmuan : Untuk meluruskan perspektif Islam yang salah baik di kalangan umat Islam maupun non muslim, meluruskan pemahaman yang salah, fatwa-fatwa yang parsial dan potensi disalahfahami, melahirkan fiqih ( pemahaman ) yang matang dan gamblang untuk gerakan-geakan Islam yang benar-benar berfondasikan syariat Islam.[16]
Pada umumnya gerakan Islam yang ada saat ini, meskipun sudah terbukti mempunyai kontribusi yang signifikan dalam menggairahkan dakwah dan kebangkitan Islam, namun banyak yang hanya memfokuskan pada bidang garapan tertentu serta melalaikan yang lain, hal itu sesuai dengan skala prioritas yang difahami oleh para tokohnya. Ada yang memfokuskan pada pemurnian tauhid, dan memang demikian seharusnya, namun kemudian tabu dengan politik, bahkan cenderung terikat dengan lahiriah teks al-Qur’an dan al-Hadist, ada yang terlalu bernafsu dalam percaturan politik praktis, sehingga terlalu banyak mengalami konfrontasi sebelum benar-benar kuat dan matang, ada yang menanamkan ekstrimitas dan mengkafirkan kelompok lain, ada yang terfokus pada pendirian daulah Islam atau khilafah Islamiah dan kurang menggarap lapangan lainnya, karena itulah solusi utama bagi semua permasalahan umat Islam, ada yang hanya menekankan fadhailul a’mal dan pembinaan akhlak, beramar makruf tetapi menjauhi nahi mungkar serta mentolelir berbagai praktek penyimpangan akidah dan lain-lainnya.
Begitu sangat beragam polarisasi geraakan Islam dalam memperjuangkan kebangkitan dan kejayaan Islam, masing masing mempunyai orientasi dan pendangan yang berbeda, kaarena itu dibutuhkan adanya fiqih ( pemahaman baru ) dalam amal islami, yaitu :
1.     Fiqih maqashid ( tujuan ) : Yang tidak hanya berhenti pada cabang-cabang syariah dan parsialnya, tetapi mempertimbangkan universalitasnya serta tujuan utamanya yang sesuai dengan semua aspek kehidupan.
2.     Fiqih aulawiyah ( prioritas ) : Urut-urutan amal, yang mana harus didahulukan daari lainnya.
3.     Fiqih sunan ( hukum Allah di alam semesta ) : untuk memaahami sunnatullah yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat yang tetap dan tidak berubah, seperti hukum perubahan, bertahap dan kemenangan.
4.     Fiqih muwazanah ( pertimbangan ) antara kemashlahatan dan kerusakan : didasari oleh pemahaman terhadap realaita, dengan kajian ilmiah yang menggunakan segenap perangkatnya.
5.     Fiqih ikhtilaf ( perbedaan ) : Untuk mengatasi perbedaan yang terjadi diantara umat Islam dengan produktif dan efektif.[17]

c.  Pembagian potensi kekuatan  umat dalam perjuangan 
Karena semua lapangan perjuangan sangat dibutuhkan, tidak bisa diterlantarkan satu dari lainnya atau dita’khirkan, maka hendaknya ada pembagian potensi kekuatan dan kecakapan umat, sesuai dengan kebutuhan yang mendesak dari lapangan-lapangan perjuangan ini dan sesuai dengan kepasitas kita masing-masing. Al-Qur’an sendiri tidak membenarkan umat Islam pada zaman nabi yang memfokuskan semua potensi kekuatannya ke lapangan jihad, padahal betapa sucinya lapngan jihad ini – sambil menutup lapangan perjuangan lainnya yang juga tidak kalah suci dan mulia dari jihad yaitu lapangan tafaqquh fiddin, dalam surat at-Taubah : 122, surat yang mengecam orang-orang yang tertinggal dalam perjuangan jihad Allah berfirman : Dan tidaklah sepatutnya bagi orang-orang yang beriman untuk pergi semuanya ke medan peperangan, maka mengapa tidak ada dari setiap kelompok diantara mereka beberapa orang yang bertafaqquh dalam agama, agar bisa memberikan peringatan kepada kaum merreka, ketika mereka kembali, agar mereka berhati-hati” .

Ikhtitam
Harapan Dr. Yusuf al-Qardhawi Terhadap Kebangkitan Islam Kontemporer
            Harapan kita sangat besar dalam kebangkitan Islam kontemporer, untuk mampu bekerja dengan penuh kesungguhan dan tekad agar umat Islam bisa berubah dari kelemahan menuju kekuatan, dari kefakiran menuju kemakmuran, dari kesemrawutan menuju keteraturan, dari kediktatoran menuju syura, dari perpecahan menuju persatuan, dari main-main menuju kesungguhan, dari kehancuran menuju pembangunan, dari perselisihan dan penistaan menuju soliditas dan solideritas dalam kebaikan dan taqwa, dari keterbelakangan materi menuju kemajuan yang saling menyempurnakan dalam materi dan maknawi.
            Kebangkitan Islam ini akan mampu banyak berbuat untuk umat bila ia memanfaatkan potensinya untuk berbuat bukan sekedar berdebat, untuk memberi bukan sekedar pamer, untuk mengokohkan bukan melemahkan, untuk menghimpun bukan menceraiberaikan. Dan menyibukkan umatnya dengan hal-hal yang prinsip dan pokok dari yang cabang-cabang dan bagian, dengan problema utama dariyang pinggiran, membawa mereka dari hal-hal yang diperselisihkan menuju yang disepakati, dari anagn-angan dan mimpi menuju realitas yang mungkin, dari meninggalkan masyarakat menuju hidup dengan mereka, serta menjadikan kesibukan utamanya adalah : penyadaraan dan pendidikan, mengadakan perubahan di masyarakat dari dalam diri sendiri, sehingga Allah akan merubah dan memperbaiki nasib merekam, karena “ Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, hingga kaum itu sendiri yang merubah nasib mereka “. ( Ar-Ra’d : 11 )[18]
Catatan Dari Penulis
            Demikianlah beberapa bahasan pokok yang penulis temukan dari konsep dan setrategi kebangkitan Islam yang diajukan oleh Dr. Yusuf Qardhawi dalam buku-buku dan makalah yang beliau tulis, dengan sedikit komentar, tanggapan dan analisa dari penulis. Penulis tidak hendak mengklaim telah membaca dan memahami semua konsep pemikiran dan analisa beliau tentang kebangkitan Islam, serta mampu menuangkannya dalam sebuah pembahasan yang komprehensif serta representatif terhadap pemikiran beliau, sama sekali tidak, bahkan masih jauh panggang dari api. Penulis menyadari adanya beberapa pembahasan yang belum dimasukkan disini, seperti pemikiran kritis konstruktif yang dibangun Dr. Yusuf Qardhawi untuk menuju kematang gerakan Islam dalam kebangkitan Islam, setelah memahami kenyataan-kenyataan di lapangan yang jauh dari hartapan ideal.
Meskipun demikian, minimal makalah ini sudah dapat dugunakan sebagai acuan sederhana untuk sebuah diskusi yang hasilnya diharapkan akan semakin memperkaya dan melengkapi kekurangan-kekurangannya. Saran dan tegur sapa dari semua pihak sangat diharapkan.


[1]Tetapi hingga saat ini masih kuat keengganan Barat untuk mengakui pengaruh besar Islam atas perkembangan peradaban mereka. Mereka mengingkari dan melecehkan pengaruh Islam dan membelokkan seolah-oleh mereka mewarisi langsung dari peradaban Romawi dan Yunani. W. Montgomery Watt, salah seorang orientalis yang cukup memeberikan apresiasi terhadap Islam nyatakan bahwa pengaruh Islam atas dunia Kristen Eropa lebih besar dari yang selama ini mereka sadari. Bersama Islam Eropa Barat tidak hanya menikmati produk-produk material dan temuan-temuan tehnologi ; Islam bukan hanya mendorong tumbuhhnya intelektualisme Eropa, dalam lapangan ilmu pengetahuan dan filsafat. Tetapi lebih dari itu Islam telah mendorong Eropa untuk membentuk citra baru mengenai diri mereka sendiri
[2] Demikian seperti yang disinyalir oleh Syekh Syakib Arsalan dalam bukunya “ Limadza ta’akkhara al-muslimun, wa limadza taqaddama ghairuhum “.
[3] Di dalam al-Qur’an banyak sekali ditemukan janji kemenangan, pemberian kekuasaan, datangnya pertolongan dari Allah kepada orang-orang yang beriman, beramal shaleh, benar-benar mentauhidkan Allah serta berjuang membela agama Allah. Kita yakini bahwa Allah pasti menepati janji-Nya, masalahnya sudahkah kita benar-benar beriman dan berjuang di jalan Allah sehingga berhak mendapatkan janji kemenangan tersebut ?
[4] Ibnu Khaldun menggambarkan jatuh bangunnya suatu negri  yang bermula dari badawah menuju hadharah melalui sebuah teori siklus yang terbagi dalam lima fase :Fase pertama : Mulai menapak kejayaan, mengalahkan musuh dan penguasa dijadikan model panutan oleh rakyatnya.Fase kedua : Penguasa mulai menerapkan sistem pemerintahan otokratik dan menjauhkan diri dari pengikutnya..Fase ketiga : Fase bersenang-senang dan ketenangan. Kecenderungan untuk hidup mewah dan membangun monumen-monumen.Fase keempat : Fase bahagia dan damai bahkan dengan fihak musuh, penguasa sudah puas dengan apa yang dicapainya.Fase kelima : Fase pemborosan dan kemewahan, penguasa menghancurkan apa-apa yang sudah dicapai pada masa lalu dengan susah payah, banyak penjilat dan pengkhianat yang hanya pandai mencari muka, orang-orang yang jujur dan idealis telah menjauh dari penguasa, kesetiaan tentara merosot dan akhirnya menuju kehancuran yang tidak ada obatnya.
Teroi ini bisa diterapkan untuk menganalisa jatuh bangunnya suatu negara, kekuasaan, kerajaan, dinasti, institusi hingga sebuah peradaban, seperti yang akan terjadi pada peradaban Barat.

[5] Syekh Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya “ Umatuna Baina Qarnain “ menulis bahwa meskipun Barat mencapai puncak kecemerlangan dalam sains dan teknologi, mereka mengalamai kehancuran spiritualitas dan keruntuhan nilai-nilai kemanusiaan ; kebebasan individu yang berdasar liberalisme telah menurunkan derajat manusia seperti binatang, eksploitasi wanita untuk pemuasan nafsu, runtuhnya lembaga keluarga, tingginya angka aborsi karena free sex, penyingkiran nilai-nilai agama, karena agama hanya menjadi persoalan individu dan tidak menjadi tatanan sosial, moral dipisahkan dari politik, ilmu pengetahuan dan ekonomi, yang berakibat pada penindasan, penghisaban dan penghancuran massal bangsa lain yang dianggap tidak pro Barat, dekadensi moral juga marak di berbagai tempat yang bahkan dilegalkan.
[6] Dr. Al-Qardhawi, lahir disebuah desa kecil di Mesir bernama Sshafth Turab di tengah delta pada tanggal 9 September 1926. Usia 10 tahun sudah hafal al-Qur’an. Menamatkan pendidikan di Ma’had Thantha dan Ma’had Tsanawi, melanjutkan ke Universita al-Azhar,, fakultas Ushuluddin dan lulus tahun 1952. Tetapi gelar doktornya baru diperoleh tahun 1972 dengan disertasi “ Zakat dan dampaknya dalam penanggulangan kemiskinan “ yang kemudian disempurnakan menjadi Fiqih Zakat. Sebab keterlambatannya meraih gelar doktor adalah karena ia harus meninggalkan Mesir karena tekanan rezim yang berkuasa saat itu. Sekarang ia menetap di Qotar setelah mendapat kewarganegaraan di sana, aktif dalam kajian keislaman, dakwah dan sangat produktif menulis buku.
[7] Diantara karya tulis Dr. Yusuf al-Qardhawi yang membahas tentang kebangkitan Islam adalah : 1. Al-Shahwah al-Islamiyah wa humumul wathani al-Arabi wa al-Islami. 2. Aina al-khalal 3. Aulawiyyat al-harakah al-Islamiyah fi al-marhalah al-qadimah 4. Al-Shahwah al-Islamiyah baina al-juchud dan at-tatharruf 5. al-Shahwah al-Islamiyah baini al-ikhtilaf al-masyru’ wa at-tafarruq al-madzmum, serta masih banyak lagi lainnya.
[8] Dr. Yusuf Qordhawi. Min Ajli Shahwah Rasyidah, Tujaddidu ad-Din wa Tanhadhu Bi ad-Dunya. Cetakan pertama. Darussyuruq, Kairo. 2001
[9] Syekh Yusuf al-Qardhawi ( Kebangkitan pemuda Islam suatu kemajuan Harus dibimbing bukan dilawan artikel dlm buku Kebangkitan Islam dalam perbincangan para pakar. GIP, jakarta. 1998 judul asli Al-Shahwah al-Islamiyah, ru’yah nuqadiyah minaddakhil. Hal 39
[10] Ibid. Hal 40.

[11] Dr. Yusuf al-Qardhawi. Ummatuna baina qarnaini. Cetakan Pertama. Th. 2000. Darussyuruq. Kairo. Hal. 100 – 102.
[12] Dr. Yusuf Qordhawi. Min Ajli Shahwah Rasyidah, Tujaddidu ad-Din wa Tanhadhu Bi ad-Dunya. Cetakan pertama. Darussyuruq, Kairo. 2001. Hal. 11-38
[13] Baca lebih jauh buku “ Mafhumu Tajdididdin “ Busthami Muhammad Said, MA. Yang dialihbahasakan oleh Mahsun Mundzir dengan judul “ Pembaharu dan Pembaharuan Dalam Islam “ PSIA Gontor, 1992.
[14] Dr. Yusuf al-Qardhawi. Ummatuna baina qarnaini. Cetakan Pertama.. Hal. 47 – 119.
[15] Dr. Yusuf al-Qardhawi. Aulawiyyat al-Harakah al-Islamiyah. Cetakan kedua. 1991. Maktabah Wahbah. Kairo. Hal. 14-15.
[16] Ibid. Hal 16
[17] Dr. Yusuf Qardhawi. Al-Shahwah al-Islamiyah, baina al-Ikhtilaf al-Masyru’ wa at-Tafarruq al-Madzmum. Cetakan ke V. Th. 1994. Dar al-shahwah. Hal. 7 – 8.
[18] Dr. Yusuf al-Qardhawi. Islam Hadharatulghad. Cetakan pertama. 1995. Maktabah Wahbah. Kairo. Hal. 204 – 205.